Have you ever heard about NING?
Bingo!!!, it’s a website that enables us to build OUR OWN NETWORK.
Facebook mungkin bisa mengijinkan kita membuat sekadar grup, namun NING mengijinkan kita membuat NETWORK sendiri, yang fasilitasnya tidak kalah dari Facebook. Ada fitur untuk membuat grup, blog, polling, chatting, diskusi, dan lain sebagainya. Dan semua itu GRATIS. Pertama kali saya berniat membuat jaringan di NING setelah mengetahui bahwa jaringan di OSUM SUN (Open Source University Meetup) ternyata menggunakan NING identification!
Saya sendiri telah membuat jaringan untuk almamater saya di sana. Dan sudah berjalan baik hingga saat ini. Sampai saat saya menerima email pemberitahuan dari pihak NING, bahwa per Juli 2010, NING akan memberlakukan tarif untuk layanannya. Hal ini tentu membuat saya kaget. Terlebih setelah melihat harga yang dipatok di sini
NING akan membagi layanannya menjadi 3 kategori, yaitu :

Kategori layanan berbayar NING (click to enlarge)
Layanan yang selama ini gratis fiturnya sama dengan NING Plus. yang artinya saya harus membayar $199.95 atau setara Rp. 2 juta per tahun. Harga yang sangat mahal menurut saya.
Dan setelah saya adakan polling kepada semua member jaringan yang saya buat tersebut, dengan pilihan melanjutkan”penyewaan” layanan atau menghentikannya untuk total di Facebook saja (saya juga mendirikan grup untuk layanan ini di FB), hasilnya : hampir semua member sepakat untuk menghentikan.
Saya teringat dengan adanya kabar (isu) baru-baru ini bahwa layanan Facebook juga akan memberlakukan tarif untuk anggotanya. Dan segera, bermunculan banyak petisi yang memprotes kebijakan tersebut. Sekian lama, sekitar 350 juta pengguna sudah sangat dimanjakan, bahkan “dininabobokan” oleh berbagai fitur yang disediakan. Ya benar. Kita memang puas, bahkan hingga ketagihan dengan layanan tersebut. Tapi kalau “berbayar”? Wait Mr. Zuckerberg… , I must think it seven times…
Mack Zuckerberg sangat mengetahui hal ini. Sejauh ini dia tidak berniat untuk membuat Facebook berbayar. Seperti layanan sejenis, Facebook masih mengandalkan iklan (ads) sebagai sumber pendapatan. Namun hingga 5 tahun setelah berdiri, Facebook belum mendapatkan laba yang signifikan. Bahkan pada awal 2009, Mack masih berkata “Facebook akan menghasilkan cash flow positive sometime in 2010.
Faktanya hingga saat ini, Facebook masih gratis, dan masih bisa mengalahkan anggapan “harga berbanding lurus dengan kualitas”.
How about NING?
NING sendiri akhirnya menyerah pada hukum “harga berbanding lurus dengan kualitas” tersebut. Seperti saya kutip dari announcementnya :
“Our shift to a paid service model will enable us to focus to a greater degree on enhancing the features, performance and services we offer to our paying Network Creator”
Ning dengan lugas mengakui hal tersebut. Mereka akan meningkatkan layanan, namun mereka ingin “dibayar” atas layanan tersebut. Saya yakin, banyak penggunanya akan menyerah pasrah. Saya sendiri, tidak menganggap tarif tersebut worth it. Alasanny : kan ada Facebook. Kalau ada yang gratis, ngapain bayar?
Now, bagaimana jika suatu saat Facebook berbayar? Wah, saya yakin masyarakat [khususnya Indonesia] yang bermental gratis pasti akan meninggalkannya. Selain Facebook, PASTI akan muncul layanan lain yang memanfaatkan fenomena tersebut, dan mencoba untuk tetap “GRATIS”. Kalau layanan “FREE” tersebut juga berubah menjadi “PAID”? Yah… kita tunggu lagi layanan gratis yang baru…
As my lecturer said : “Web 2.0 will hardly produce PROFIT”.
Share on Facebook